ads

Slider[Style1]

Berita Utama Kodim 0308 Pariaman

Style3[OneLeft]

Style3[OneRight]

LINK




KODAM I/BB TNI TNI-AD TNI-AU
TNI-AL DEPHAN




TOBA GO GREEN
KOREM 022 PANTAI TIMUR
KOREM 023

KOREM 033

KOREM 032 WIRA BRAJA
KOREM 031 WIRA BIMA

Temukan Air Terjun Duo Bidadari, Kopda Ulil Amri Dorong Wisata, Ekonomi Warga dan Kelestarian Alam






*Temukan Air Terjun Duo Bidadari, Kopda Ulil Amri Dorong Wisata, Ekonomi Warga dan Kelestarian Alam*

PARIAMAN - Penemuan air terjun Duo Bidadari oleh Kopda Ulil Amri (Babinsa Nagari Sukucua Utara) dan warga, tidak hanya mendorong alternatif  wisata, namun membuka roda perekonomian serta kelestarian alam di Nagari Sikucua Utara, Padang Pariaman.

Hal tersebut disampaikan Dandim 0308/Pariaman, Letkol Arm Heri Pujiyanto, dalam rilis tertulisnya di Kabupaten Padang Pariaman, Sumatera Barat, Kamis (16/1/2020).

Diungkapkan Dandim, penemuan air terjun Duo Bidadari ini berawal ketika Kopda Ulil Amri melaksanakan Napak Tilas bersama warga di hutan Nagari Sikucua Utara.

"Ketika itu dalam rangka peringatan HUT ke-74 RI. Bersama warga, Perangkat Nagari, Tokoh Masyarakat, Wali Korong, Pemuda/Pemudi dan masyarakat, Kopda Ulil menyusuri jalan setapak ke dalam hutan, "ujar Heri.

Setelah satu jam perjalanan, lanjut Heri, mereka menemukan air terjun yang selama ini tidak diketahui banyak orang.

"Dari semula napak tilas, spontan berubah menjadi upacara pengibaran bendera memperingati HUT ke- 74 RI di lokasi itu,” ucapnya.

"Kebetulan dalam perjalanan memang sudah membawa Bendera Merah Putih," tambah Heri.

Ditambahkan pula, nama Duo Bidadari muncul dari ide Ulil Amri, yang melihat ada dua batu dan dua air terjun yang airnya begitu bersih.

“Nama tersebut diterima masyarakat karena cocok dengan keindahan saat berfoto. Terkadang muncul bayangan wanita cantik bagaikan bidadari, bahkan saat foto di air terjun muncul warna pelangi," terangnya.

Tidak hanya berhenti di situ, menurut Heri, Ulil juga berinisiatif dan berembug dengan Wali Nagari, Mayunis Alima, untuk mengembangkan destinasi wisata yang belum terjamah ini.

"Inisiatif Kopda Ulil ini disambut dengan baik, karena dengan adanya air terjun ini tidak hanya menyediakan alternatif wisata, namun juga dapat mendorong meningkatkan perekonomian warga serta turut serta menjaga kelestarian alam," tandasnya.

Heri pun menegaskan, dengan adanya tekad bersama warga setempat, maka selaku Dandim, dirinya pun menggelar karya bakti untuk perbaikan jalan, maupun sarana lainnya di sekitar air terjun.

Kodim 0308/Pariaman pun melaksanakan karya bakti Binter (Pembinaan Teritorial) di Nagari Sikucua Utara, Kecamatan V Koto Kampung Dalam.

“Dimana sebelumnya jika melewati hutan jalan terjal dan licin butuh waktu sekitar 30 menit. Namun, setelah dilakukan pembukaan akses jalan oleh Koramil 06/Kampung Dalam, untuk sampai ke objek wisata kini bisa ditempuh hanya waktu 5 menit saja," tuturnya.

Selaras dengan disampaikan Dandim, Danramil 06/Kampung Dalam, Kapten Inf Syamsuwarno mengatakan, dalam karya bakti tersebut mereka membuka jalan 4 × 800 meter.

"Memang jaraknya hanya 800 meter, tapi kondisinya sangat sulit dilalui, sehingga masyarakat jarang yang mengunjungi air terjun tersebut," ujar Syamsuwarno.

“Alhamdulilah, jika sebelumnya butuh waktu sekitar 30 menit, sekarang dalam waktu 5 menit saja, para pengunjung bisa menikmati keindahan air terjun," sambungnya.

Pun demikian dengan Ulil, bapak dari tiga ini mengungkapkan rasa bangga atas kerja sama dan kebersamaan warga dalam mengembangkan air terjun Duo Bidadari.

“Sayang potensi besar seperti ini belum kita optimalkan, apalagi dukungan dari warga sangat besar. Bahkan untuk memperlancar akses menuju Duo Bidadari ini, warga dengan sukarela mengikhlaskan tanah miliknya untuk kita buka jalan,” katanya.

“Ke depan, diharapkan obyek wisata ini dapat memberikan kontribusi terhadap masyarakat dan kelestarian alam," imbuh suami dari Eva Susilowati itu.

Tidak hanya membuka keterisoliran, program Pembinaan Teritorial (Binter) Terpadu 2019 yang dilakukan oleh Kodim 0308/Pariaman menyibak harapan masa depan warga yang akan lebih baik.

Bahagia dan bangga terhadap TNI pun terucapkan oleh warga, salah satunya Norma, lansia yang telah berumur 85 tahun dan tidak fasih berbahasa Indonesia.

_“Sajak jaman karengko, alah 85 tahun umua, akhirnyo tibo juo kasudahannyo oto ka kampuang kito. Tarimo kasih ambo ka apak-apak TNI nan tak tahinggo. Jalan nan babuek an untuak kami”._ (Sejak zaman dulu, kini usia saya sudah 85, baru kini mobil bisa masuk ke kampung saya. Terima kasih Pak Tentara. Sudah membuat jalan bagus untuk kampung kami menuju air terjun ini),” kata Norma.

Norma pun berkisah, sebelum jalan di kampungnya diperbaiki TNI, selama puluhan tahun, dia dan warga lainnya hanya bisa berjalan kaki sambil menjujung hasil kebun di kepala.

“Kini dengan jalan yang bagus, masyarakat bisa menggunakan roda dua bahkan roda empat untuk mengangkut hasil bumi. Bahkan air tenjun ini pun kini ramai dikunjungi para wisatawan,” tuturnya.

Norma pun mendoakan Babinsa Ulil Amri dan anggota yang lainnya, agar selalu diberi kemudahan, panjang umur, diberi rejeki yang banyak dan selalu dalam lindungan Allah SWT.

“Sebagai kenang-kenangan akan kerja keras Nak Ulil Amri, saya minta berfoto dengan petugas keamanan berbaju loreng tersebut. Bahagia benar saya sekarang ini,” pungkasnya.

Video Sertu Suharman (Babinsa Koramil 02/SL) Kodim 0308 Pariaman Menerima Penghargaan DHARMA PERTAHANAN dari Menteri Pertahanan RI


Dandim 0308 Pariaman Gowes ke Air Terjun Duo Bidadari


BABINSA, BHABIN, KANTIBMAS DAN WALI NAGARI KOMSOS BERSAMA WARGA



Anggota Koramil 03/ Sungai sarik Serda Jefrinaldi sebagai Babinsa selalu aktif memantau desa binaannya  baik dengan cara ikut terlibat kerja bhakti maupun komunikasi sosial dengan masyarakat.

Seperti yang dilakukan Babinsa Koramil 03/ Sungai sarik Serda Jefrinaldi yang selalu mendekatkan diri bersama warga binaannya, kali ini Serda Jefrinaldi,,Bhabin kantibmas dan Wali nagri melaksanakan anjangsana ke rumah Bapak Zainal warga Nagari Koto baru Korong solok pintu gabang Kecamatan Padang sago Kabupaten Kabupaten Padang Pariaman.

Keakraban kepada warga binaan merupakan tugas pokok Babinsa, salah satunya yaitu dengan melakukan komunikasi sosial dalam menciptakan interaksi serta kekompakan antara Babinsa dengan warga binaannya, inilah yang dilakukan oleh Serda Jefri dalam menjalin rasa keakraban serta kebersamaan yang baik dengan warganya.

Serda Jefrinaldi dalam kegiatan Komsosnya mengatakan Kegiatan ini untuk mencerminkan rasa kemanunggalan TNI khususnya Babinsa kepada masyarakat wilayah binaannya.

Tujuan Komsos ini juga untuk mengetahui perkembangan situasi di wilayah binaan, dengan adanya interaksi komunikasi sosial ini Babinsa dengan warga akan dapat mempererat hububungan tali silaturrahmi TNI dengan Rakyat.

 Serda Jefrinaldi mengatakan, dengan kegiatan komsos yang dilaksanakan oleh Babinsa, semoga dapat diterima dengan baik oleh masyarakat, sekaligus dengan adanya Babinsa yang selalu memantau wilayah desa binaannya Babinsa akan tahu permasalahan di desanya, sehingga jika ada permasalahan dengan cepat dapat diatasi dan diselesaikan.

Wali Nagari Koto baru Bpk H. Zulhendrayani mengucapkan terimakasih kepada Babinsa dan Bhabin kantibmas yang siap mendampingi kegiatan. dan selalu hadir ditengah tengah masyarakat di Nagari Koto baru.

Ucapan Panglima TNI Memperingati HUT ke-70 RI

Ucapan Panglima TNI Jenderal TNI Gatot Nurmantyo Dalam Rangka Memperingati HUT ke-70 RI

 

Serda Kowad Rindy Puspaningrum, Srikandi Voli dari TNI AD

Srikandi Voli dari TNI AD

Siapa bilang menjadi prajurit tidak dapat mengembangkan karier olah raga. Buktinya atlet bola voli nasional Rindy Puspaningrum yang telah menjadi anggota Kowad sejak 23 Maret tahun 2013 hingga kini terus aktif berkiprah pada cabang olah raga tersebut.
Kehadiran Sosok gadis berkulit putih bernama lengkap Rindy Puspaningrum membuat kontingen Bola Voli putri jadi berbeda. Rindy, demikian panggilan singkatnya, lahir di Sumedang, 25 Januari 1993, adalah atlet termuda dalam even Pekan Olahraga Nasionanal (PON) XVII di Cabang Olahraga Bola Voli. Menggeluti dunia Bola Voli sejak usia 9 tahun, tepatnya kelas III Sekolah Dasar Darangdan Sumedang, Rindy sudah bergabung dengan klub OSAS yang cukup ternama di kota Sumedang. Hampir setiap sore ia selalu rajin berlatih mengolah si kulit bundar. Melihat bakat Rindy yang menonjol, para pelatih senior ikut turun tangan mengasah kemampuan dasar yang telah dimiliki Rindy.
Pada saat usianya beranjak 14 tahun, ia beserta orang tuanya hijrah ke kota Bandung dan di sana pula ia melanjutkan sekolah ke tingkat Sekolah Menengah Pertama, tepatnya di SMPN 170 Bandung. Di kota barunya ini Rindy yang telah memiliki kemampuan di atas rata-rata baik di bidang akademis maupun olah raga, khususnya di bidang bola voli bergabung dengan klub Bandung “Tectona”. Sebagai gambaran bahwa tidak setiap pemain yang bisa bergabung dengan klub sebesar Bandung Tectona, sementara Rindy dengan mudah bisa bergabung dengan klub tersebut. Di klub ini Rindy berlatih bersama para pemain senior dan ditangani oleh para pelatih profesional sehingga membuat kemampuannya semakin matang. Bermain dengan pemain senior membuat pemain Spiker itu merasa senang dan nyaman. “Kakak-kakak disini selalu mendukung saya dan sering memberi masukan, malah aku disayang sama senior,” timpal cewek dengan tinggi 175 cm tersebut.
Karena kemampuan Rindy bermain voli cukup baik, Rindy pun kerap di- ikutsertakan dalam pertandingan-pertandingan yang berkelas. Beberapa even nasional yang telah diikuti Rindy diantaranya Kejuaraan Nasional sejak 2006 hingga sekarang. Pada tahun 2007, gadis belia yang hobi menyantap nasi goreng tersebut terpilih menjadi salah satu atlet yang diikutsertakan memperdalam pengetahuan tentang bola voli ke negeri Fidel Castro, yakni Cuba. Kiprah dara berbintang Aquarius ini terus berkibar dan berbagai turnamen baik di dalam maupun luar negeri dijamahnya dengan hasil yang memuaskan.
Meski jadwal kegiatan sekolah seringkali berbenturan dengan jadwal olahraga, tak membuat ia patah semangat. Kedua kepentingan itu dilakukan secara serius dan berimbang. Apalagi para guru di SMPN 170 memberi dukungan sepenuhnya bagi Rindy untuk maju di kedua bidang itu. Terbukti meski terkadang harus absen sekolah karena berbarengan dengan kegiatan voli, namun prestasi di bidang akademis Rindy masih sanggup berada pada 10 besar. Prestasi di sekolah anak pertama dari dua bersaudara, hasil buah cinta Papa Belly dan Mama Rokayah, terbilang pintar. Sejak Sekolah Dasar, Rindy meraih 3 besar. “Semenjak SMP, nilaiku agak turun, tapi tetap masuk 10 besar koq. Waktunya terbagi dengan kegiatan Bola Voli,” imbuhnya.
Ketika Rindy beranjak ke bangku sekolah lanjutan tingkat atas, tepatnya di SMUN 10 Bandung, kemampuannya di bidang olahraga semakin menjadi. Selain tergabung dengan klub Bandung Tectona, ia juga tergabung dengan klub terkenal lainnya dalam rangka mengikuti kejuaraan Pro Liga di tingkat nasional.
“Voli itu hidup saya lho, jadwal bertanding bertabrakan dengan waktu sekolah, terpaksa bolos deh,” kata mojang yang ketika itu duduk di bangku SMU 10 Bandung kelas 1. “Kedua orang tua, guru, sangat mendukung kegiatannya, yang penting bisa bagi waktu aja” tambah Rindy.
Memasuki tahun 2011, meski melalui perjuangan yang cukup panjang akhirnya Rindy berhasil menamatkan pendidikan SMA nya. Setelah itu selama lebih kurang setahun ia malang melintang di kancah olahraga bola voli baik dalam maupun luar negeri. Pada bulan September tahun 2012 Rindy yang tergabung dalam tim PON Jabar melakukan pertandingan voli pada event PON XVIII di Riau.
Unjuk kebolehan dari setiap individu maupun tim pilihan demi meraih prestasi terbaik dalam perhelatan turnamen akbar di tanah air saling berbalas. Kemenangan yang datang dengan susah payah bukan disebabkan hanya karena kemampuan taktis dan teknis semata, akan tetapi keberuntungan nampaknya lebih cenderung disebabkan oleh faktor kematangan dan pengalaman.
Dengan kemampuan yang baik, disertai dengan pengalaman dalam maupun luar negeri, Rindy tidak menyia-nyiakan kesempatan emas itu. Dengan pukulan smash yang mematikan semua lawan dibabat habis, hingga tim nya ditasbihkan sebagai jawara pada turnamen tersebut. Rasa letih selama mengikuti pertandingan terhapus seketika saat predikat tertinggi juara berhasil diraih. Keringat letih yang masih membasahi kening semakin menambah aura kecantikan Rindy. Banyak para supporter wanita maupun lawan jenis yang mengelu-elukan karena sangat mengagumi penampilan Rindy selama turnamen berlangsung.
Langsung Menerima Tawaran
Tak terkecuali, TNI Angkatan Darat yang merupakan wadah orang-orang berprestasi juga melakukan pemantauan terhadap para putera-puteri bangsa yang memiliki potensi untuk maju. Keterampilan dan ketangguhan Rindy dalam menyelesaikan setiap tantangan di lapangan menjadi pertimbangan para pemandu bakat TNI Angkatan Darat untuk merekrutnya. Mendapat penawaran bergabung sebagai anggota Korps Wanita Angkatan Darat (Kowad), Rindy yang sudah tidak asing berada di lingkungan militer karena pernah mendapat pembinaan di Pusdikpassus Batujajar, langsung menerima tawaran tersebut. Keputusan ini merupakan awal kisah perjalanan Rindy di dunia kemiliteran.
Sama seperti calon lainnya, Rindy bersama para peserta seleksi melaksanakan kewajiban tes yang telah ditentukan sebagai persyaratan. Setelah dinyatakan lulus seleksi akhirnya 172 orang calon siswa mengikuti pendidikan Sekolah Calon Bintara Prajurit Karier Angkatan ke XX. Selama 5 bulan Rindy mengikuti jalannya pendidikan dasar kemiliteran di Lembang Bandung. Setelah pendidikan dasar dinyatakan lulus, Rindy diharuskan melanjutkan pendidikan spesialisasi di Pusat Pendidikan Ajudan Jenderal TNI AD (Pusdik Ajen) di Lembang Bandung selama 4 bulan. Selama mengikuti pendidikan, semua aktivitas voli yang sebelumnya dilakukan oleh Rindy vakum sama sekali.
Setelah 9 bulan melaksanakan pendidikan militer akhirnya bulan Maret tahun 2013 Rindy dinyatakan lulus dan mendapat kepercayaan untuk mengemban tugas di Mabes TNI AD. Di usia 20 tahun dengan dukungan fisik dan mental yang prima, Rindy setelah mendapat rekomendasi dari pimpinan TNI AD selain melaksanakan tugas pokoknya juga kembali aktif sebagai atlet voli. Dukungan penuh para atasan menjadikan kemampuan Rindy semakin “menggila”. Dengan bergabungnya Rindy bersama tim olahraga bola voli Mabesad, superioritas tim TNI AD semakin tak terbendung. Berbagai turnamen yang diikuti hampir dapat dipastikan tim bola voli Rindy yang dinobatkan sebagai juaranya. Ketangguhan sebuah klub sangat identik dengan keterlibatan Rindy didalamnya. Semakin banyak klub voli profesional di tanah air berlomba untuk menghadirkan Rindy agar bersedia bergabung dengan mereka. Selama berada dalam pembinaan Persatuan atlet bola voli TNI, Rindy pernah direkrut oleh beberapa klub yang telah memiliki nama besar seperti Bank DKI, Popsivo Polwan, Electric PLN, dan beberapa klub besar lainnya.
Meski berhasil mengukir segudang prestasi, Rindy tidak pernah berpuas diri ataupun tinggi hati, ia tetaplah gadis ramah yang bersahaja sama seperti sifat kedua orangtuanya. Rindy sekarang tetap seperti Rindy yang dulu, bagaikan sang Srikandi yang sangat konsisten terhadap tugas dan tanggung-jawabnya. Prestasi yang melambungkan namanya semakin menambah rasa syukur kepada Sang Pencipta yang telah memberikan Berkah, Rahmat serta Karunia kepadanya.(Dispenad)

Pratu M. Thoyib Azizi Prajurit Pemberani, Ringkus Penembak Polisi

Sebuah peristiwa heroik dilakukan oleh seorang prajurit TNI AD, dengan mengabaikan keselamatan jiwanya, ia terpanggil untuk melakukan aksi yang sangat beresiko. Pratu M. Thoyib Azizi, Prajurit Kodam VII/Wirabuana, berhasil menangkap seorang pelaku penembakan terhadap anggota kepolisian. Dalam perburuan yang menegangkan Thoyib berhasil membekuk pelaku dan mengamankan satu pucuk senjata api jenis Revolver milik Brigadir Syarif Dunggio anggota Polres Kota Gorontalo, yang meninggal dunia akibat penembakan oleh pelaku kriminal yang merebut senjata api milik korban.

Thoyib (23 tahun), begitu panggilan akrabnya, lahir di Desa Betoyo Guci Manyar Gresik dari keluarga sederhana. Sang Ayah, Abdul Ghofar, adalah seorang petani tambak sewaan, sementara ibunya, Nafilah, sehari-hari berdagang nasi di depan rumah. Thoyib sedari kecil telah terbiasa bekerja membantu orang memanen ikan dengan upah 20 ribu rupiah setiap panen. Hal itu harus dilakukan demi membantu mengatasi biaya hidup keluarga, walau resikonya mengantuk karena sejak pulang sekolah hingga dini hari terkadang tidak tidur. Meski demikian ia tetap bersyukur bisa meringankan beban orang tuanya.
Perawakan tinggi dan kekar dari laki-laki berseragam tentara dengan pangkat prajurit dua ini, memang memberi kesan bahwa ia bukan orang yang bisa dianggap remeh. Sikapnya yang sigap dan gerakannya yang gesit, jelas mengisyaratkan bahwa ia adalah sosok yang memiliki keahlian beladiri. Sangat layak bila Prada Moh. Thoyib Azizi menjadi salah satu prajurit yang memperoleh penghargaan berupa Kenaikan Pangkat Luar Biasa (KPLB) dari Kepala Staf Angkatan Darat Jenderal TNI Gatot Nurmantyo pada awal tahun 2015 di Mabesad.
Meringkus dengan Tangan Kosong
Prada Thoyib diberi penghargaan karena dianggap berjasa dalam membantu pihak kepolisian menangkap pelaku Curanmor yang menembak mati anggota kepolisian saat menyergapnya. Hebatnya lagi, Thoyib meringkus pelaku yang bersenjata api hanya dengan menggunakan tangan kosong. Dampak positif dari tindakannya tersebut, ia dianggap sebagai dewa penolong yang mencairkan suasana hubungan antara Polisi dan Prajurit TNI AD, khususnya dalam menetralisasi kesan adanya perselisihan TNI – Polisi di Gorontalo selama ini. “Dengan adanya penghargaan ini, membuat saya semakin bangga menjadi tentara, saya akan selalu berusaha melakukan yang terbaik untuk NKRI tercinta”, ungkap Prada Thoyib.
Pria yang berdinas di Yonif 713/ST, Brigif 22/OM Gorontalo sejak 4 April 2012 itu, berhasil melumpuhkan seorang pelaku Curanmor yang melarikan diri seusai menembak Brigadir Syarif Dunggio, seorang anggota Polres Gorontalo dan seorang pengemudi becak motor, di Simpang Telaga, Gorontalo, sekitar pukul 17.30 Wita, pada 26 Desember 2014 lalu.
Kronologis peristiwa berawal ketika Prada Thoyib mendengar teriakan minta tolong dari Brigadir Polisi Syarif anggota polisi yang ditembak pelaku dengan menggunakan pistol revolver miliknya yang direbut pelaku kejahatan. Tanpa pikir panjang pria yang sangat menggemari beladiri militer Yong Moo Do ini bergegas mengejar pelaku hingga terdesak ke pemukiman warga. Melihat pelaku yang masih memegang senjata api itu terpojok, Thoyib secepat kilat menghantam dada pelaku dengan kakinya. Mendapat tendangan yang cukup keras, pelaku tersungkur tak sadarkan diri. Selanjutnya Thoyib mengamankan pelaku berikut pistol milik Brigpol Syarif anggota Polres Kota Gorontalo yang berhasil dilucuti oleh pelaku, untuk kemudian menyerahkannya ke Mapolda Gorontalo.
Kebenaran pada akhirnya akan keluar sebagai pemenang, walau tidak satupun diantara kita mengetahui persis kapan datangnya. Bila seseorang selalu berupaya menjaga niat baiknya untuk selalu berbuat baik, suatu saat perbuatan baik itu akan berbuah manis pada kehidupan orang yang menjalaninya. Agaknya hal itu jugalah yang dialami Prajurit Dua (Prada) M. Thoyib Azizi (23), personel Yonif 713 Brigif 22 Gorontalo. Berkat aksi ksatrianya, Panglima Kodam VII/Wirabuana, Mayor Jenderal TNI Bachtiar juga berkenan memberi penghargaan secara khusus kepada Prada Thoyib, bertempat di Makodam VII/Wirabuana, Makassar, Senin (19//1/2015).
Membopong Pencuri ke Pos Polisi
Salah seorang warga Kota Gorontalo bernama Syahrir Soleman, yang menyaksikan langsung kejadian tersebut mengatakan, bahwa pada mulanya orang-orang mengira peristiwa yang terjadi merupakan perkelahian antar anggota, ternyata salah sangka. Tentara tersebut (Prada Toyib) ternyata mengejar pencuri sepeda motor, dan dia terlihat sangat berani sekali. Hanya dia yang berani maju melawan pencuri tersebut, orang lain pada takut, karena pencuri tersebut memegang pistol. Setelah dia berhasil melumpuhkan penjahat dengan tangan kosong, dan hanya dengan beberapa tendangan berhasil melumpuhkan, serta melucuti pistol pencuri tersebut, selanjutnya Prada Toyib mengangkat tubuh pencuri bagaikan aksi “smack down” dan membopong tubuh pencuri yang sudah tidak berdaya menuju pos polisi terdekat”, tutup Syahrir.
Satu pesan orang tua Thoyib yang masih ia pedomani hingga sekarang; “Jangan pernah takut kalau kamu benar, kamu pasti bisa”, demikian pesan ayahnya. Rupanya Thoyib pernah menjadi saksi bahwa nasehat itu bukanlah sekedar kata-kata belaka. Di masa kecilnya, Thoyib pernah menyaksikan langsung ayahnya mengejar dan menangkap pencuri ikan di tambak. Agaknya, pelajaran ini yang memotivasi dirinya, disempurnakan dengan penghayatan dari butir ke-3 Sapta Marga, yakni “Kami Ksatria Indonesia, yang Bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, serta Membela Kejujuran, Kebenaran dan Keadilan”, sehingga ia berani mengambil langkah tepat yang berdampak kepada citra TNI AD yang semakin baik.(Dispenad)
admin

Top